MEDIA DESA ONLINE

MEDIA DESA ONLINE
mediadesaonline.com merupakan situs berita online yang berdiri tahun 2023 dan berbadan hukum. Dikelola oleh PT. WEB DIGITAL MARKETING, berkedudukan di Sleman Berita dan informasi yang kami sajikan khusus seputar perkembangan desa di Indonesia mulai dari wisata, ekonomi, politik, pendidikan, pemerintahan, teknologi, dan lain-lain namun pada umumnya segala hal yang dirasa perlu diberitahukan kepada khalayak kami akan mengabarkan kepada semua pembaca.

DAPUR BAROKAH

DAPUR BAROKAH
JUAL NASIBOX ONLINE PERTAMA DIJOGJA

JASA KELOLA MEDSOS

JASA KELOLA MEDSOS
ANTI RIBET UNTUK JALANKAN MEDSOS

MEDIA DESA ONLINE

Selalu Ada Yang Baru

Blogroll

About

Ratusan Jamaah Padati Halaman Masjid Nurul Ashri Deresan, Nobar “Pesta Babi” Jadi Ruang Diskusi Intelektual Anak Muda

 

Flayer yang beredar dimedia sosial yang lagi ramai jadi perbincangan 


DERESAN, CATURTUNGGAL, SLEMAN, YOGYAKARTA — Halaman Masjid Nurul Ashri Deresan, Sabtu (16/5/2026) malam, tampak berbeda dari biasanya. Ratusan anak muda, mahasiswa, aktivis lingkungan, hingga masyarakat umum memadati area masjid untuk mengikuti kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter “Pesta Babi” yang dilanjutkan dengan diskusi intelektual bertema kolonialisme modern dan krisis lingkungan di tanah Papua.

Acara yang dimulai sejak pukul 18.30 WIB itu menghadirkan Guru Besar Hukum Tata Negara Fakultas Hukum UGM, Prof. Zainal Arifin Mochtar, bersama aktivis WALHI Yogyakarta, Elki Setiyo Hadi. Kegiatan tersebut menjadi magnet tersendiri bagi kalangan muda Yogyakarta yang haus ruang dialog kritis namun tetap terbuka dan inklusif.

Sejak sore, peserta mulai berdatangan ke kompleks Masjid Nurul Ashri. Panitia menyiapkan layar besar di halaman utama masjid dengan suasana sederhana namun penuh antusiasme. Beberapa peserta bahkan rela duduk lesehan di pelataran demi mengikuti pemutaran film hingga diskusi selesai.

Pantauan di lokasi menunjukkan suasana penuh perhatian. Dua layar proyektor dipasang menghadap jamaah yang memadati halaman masjid. Meski digelar di ruang terbuka, peserta tampak serius menyimak setiap adegan film dokumenter yang mengangkat persoalan eksploitasi sumber daya alam, ketimpangan sosial, hingga isu kemanusiaan di Papua.

Tidak sedikit peserta yang datang dari luar kawasan Deresan. Mereka mengaku tertarik karena kegiatan tersebut menghadirkan diskusi yang jarang ditemui di ruang publik biasa.

“Kami melihat ini bukan sekadar nobar film, tetapi ruang belajar bersama. Anak-anak muda sekarang butuh ruang diskusi yang sehat dan terbuka,” ujar salah satu peserta di sela kegiatan.

Dalam diskusi yang berlangsung setelah pemutaran film, Prof. Zainal Arifin menyoroti pentingnya keberanian generasi muda dalam membaca persoalan bangsa secara kritis. Menurutnya, kampus, masjid, dan ruang komunitas harus kembali menjadi tempat lahirnya gagasan-gagasan besar yang berpihak pada kemanusiaan.

Ia menegaskan bahwa persoalan lingkungan dan ketimpangan sosial tidak dapat dipandang sebagai isu pinggiran. Sebab dampaknya berkaitan langsung dengan masa depan demokrasi dan keadilan sosial di Indonesia.

Sementara itu, Elki Setiyo Hadi dari WALHI Yogyakarta mengajak peserta untuk lebih peduli terhadap isu ekologis yang terjadi di berbagai daerah. Ia menilai generasi muda memiliki peran besar dalam mengawal keberlanjutan lingkungan hidup melalui gerakan sosial maupun edukasi publik.

“Kerusakan lingkungan bukan sekadar soal alam rusak, tetapi juga menyangkut kehidupan masyarakat adat, budaya, dan masa depan generasi berikutnya,” ungkapnya dalam forum diskusi.

Kegiatan nobar dan diskusi tersebut juga menuai perhatian luas di media sosial. Poster acara yang beredar sejak beberapa hari sebelumnya viral di berbagai platform digital dan mendapat respons besar dari kalangan mahasiswa maupun komunitas aktivis.

Panitia mengaku tidak menyangka jumlah peserta membludak hingga memenuhi halaman masjid. Banyak peserta bahkan tetap bertahan hingga acara selesai meski malam semakin larut.

Di tengah maraknya hiburan digital dan budaya instan, kegiatan seperti ini dinilai menjadi angin segar bagi lahirnya ruang intelektual alternatif di kalangan anak muda. Masjid tidak hanya dipandang sebagai tempat ibadah semata, tetapi juga pusat dialog sosial, pendidikan, dan gerakan moral masyarakat.

Suasana hangat terlihat ketika peserta saling berdiskusi seusai acara. Beberapa kelompok mahasiswa tampak melanjutkan obrolan kecil di sudut halaman masjid, membahas isu lingkungan, demokrasi, hingga masa depan Indonesia.

Kegiatan di Nurul Ashri Deresan malam itu menjadi bukti bahwa ruang diskusi kritis masih hidup di tengah masyarakat. Di bawah cahaya lampu halaman masjid dan layar proyektor sederhana, ratusan anak muda menunjukkan bahwa kepedulian terhadap isu bangsa belum benar-benar padam.

Nonbar sangat ramai sekali di penuhi anak anak muda khususnya mahasiswa yogya






Posting Komentar

0 Komentar