MEDIA DESA ONLINE

MEDIA DESA ONLINE
mediadesaonline.com merupakan situs berita online yang berdiri tahun 2023 dan berbadan hukum. Dikelola oleh PT. WEB DIGITAL MARKETING, berkedudukan di Sleman Berita dan informasi yang kami sajikan khusus seputar perkembangan desa di Indonesia mulai dari wisata, ekonomi, politik, pendidikan, pemerintahan, teknologi, dan lain-lain namun pada umumnya segala hal yang dirasa perlu diberitahukan kepada khalayak kami akan mengabarkan kepada semua pembaca.

DAPUR BAROKAH

DAPUR BAROKAH
JUAL NASIBOX ONLINE PERTAMA DIJOGJA

JASA KELOLA MEDSOS

JASA KELOLA MEDSOS
ANTI RIBET UNTUK JALANKAN MEDSOS

MEDIA DESA ONLINE

Selalu Ada Yang Baru

Penguatan Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya Yogyakarta, Peserta Bimtek Konten Kreator Digital Diajak Menjadi Agen Pelestari Nilai Budaya

 

Bapak Sofyan Setyo Darmawan, ST., M.Eng Sebagai Anggota Komisi A DPRD DIY [Dok.mediadesaonline]


YOGYAKARTA — Pengembangan ekonomi kreatif di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tidak hanya bertumpu pada kemampuan teknologi dan kreativitas semata, tetapi juga harus berpijak pada nilai-nilai budaya yang menjadi identitas masyarakat Yogyakarta. Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengembangan Talenta Konten Kreator Digital Berbasis Kreativitas dan Inovasi Batch 2 yang digelar di Yogyakarta.

Pada sesi kelima, peserta mendapatkan materi bertajuk “Peran Pemerintah Daerah dalam Penguatan Ekonomi Kreatif” yang disampaikan oleh Anggota Komisi A DPRD DIY, Sofyan Setyawan Darmawan, ST., M.Eng. Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa perkembangan industri kreatif dan dunia digital harus berjalan beriringan dengan pelestarian budaya lokal sebagai ciri khas dan kekuatan utama Yogyakarta.

Di hadapan para peserta yang berasal dari berbagai latar belakang kreator konten, pelaku UMKM, dan pegiat ekonomi kreatif, Sofyan menjelaskan bahwa Yogyakarta memiliki landasan hukum yang kuat dalam menjaga identitas budayanya melalui Peraturan Daerah DIY Nomor 4 Tahun 2011 tentang Tata Nilai Budaya Yogyakarta.

Menurutnya, perkembangan media sosial dan teknologi digital saat ini memberikan peluang besar bagi generasi muda untuk memperkenalkan budaya Yogyakarta ke tingkat nasional bahkan internasional. Namun di sisi lain, derasnya arus informasi juga dapat mengikis nilai-nilai budaya apabila tidak disikapi dengan bijaksana.

“Konten kreator memiliki peran strategis sebagai agen perubahan. Mereka tidak hanya membuat konten yang menarik dan menghibur, tetapi juga dapat menjadi penjaga sekaligus penyebar nilai-nilai budaya Yogyakarta kepada masyarakat luas,” ujarnya.

Ia menambahkan, budaya bukanlah sesuatu yang kuno atau tertinggal zaman. Sebaliknya, budaya dapat menjadi sumber inspirasi yang tidak pernah habis untuk melahirkan karya-karya kreatif yang memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus memperkuat identitas daerah.

Empat Belas Pilar Tata Nilai Budaya

Dalam pemaparannya, Sofyan mengulas 14 pilar utama Tata Nilai Budaya Yogyakarta yang menjadi pedoman dalam kehidupan masyarakat maupun pembangunan daerah.

Pilar pertama adalah religio-spiritual, yaitu nilai yang menekankan hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa sebagai landasan kehidupan. Nilai ini menjadi fondasi moral dan etika masyarakat Yogyakarta dalam menjalankan aktivitas sosial maupun ekonomi.

Pilar kedua adalah moral, yang menekankan pentingnya budi pekerti luhur, kejujuran, tanggung jawab, dan etika dalam kehidupan sehari-hari. Dalam dunia digital, nilai ini diwujudkan melalui penyebaran informasi yang benar dan bertanggung jawab.

Selanjutnya terdapat nilai kemasyarakatan, yang mencerminkan semangat gotong royong, tepa selira, dan kebersamaan. Nilai ini menjadi kekuatan sosial masyarakat Yogyakarta yang dikenal memiliki solidaritas tinggi.

Pilar berikutnya adalah adat dan tradisi, yang mencakup pelestarian berbagai tradisi lokal, upacara adat, dan warisan budaya yang diwariskan turun-temurun.

Kemudian terdapat pendidikan dan pengetahuan, yang mendorong masyarakat untuk terus belajar, berinovasi, dan mengembangkan kapasitas diri dalam menghadapi perubahan zaman.

Di era digital, nilai teknologi menjadi sangat penting. Namun pemanfaatannya harus dilakukan secara bijaksana dan tetap berlandaskan budaya lokal agar tidak kehilangan jati diri.

Selain itu terdapat nilai penataan ruang dan arsitektur, yang mengatur pembangunan fisik agar tetap mencerminkan karakter khas Yogyakarta. Nilai ini menjadi bagian penting dalam menjaga wajah kota dan kawasan budaya.

Pada sektor ekonomi, terdapat nilai mata pencaharian, yang menekankan etos kerja keras, kejujuran, dan keadilan dalam mencari nafkah serta mengembangkan usaha.

Sementara itu, nilai kesenian mendorong pelestarian dan pengembangan seni tradisional maupun modern sebagai sarana ekspresi budaya dan penggerak ekonomi kreatif.

Nilai bahasa juga menjadi perhatian khusus, terutama dalam menjaga penggunaan bahasa Jawa sebagai salah satu identitas budaya masyarakat Yogyakarta.

Perda tersebut juga mengatur perlindungan terhadap benda dan kawasan cagar budaya, sebagai warisan sejarah yang harus dijaga keberadaannya untuk generasi mendatang.

Dalam aspek tata kelola pemerintahan, terdapat nilai kepemimpinan dan pemerintahan yang menekankan keteladanan, amanah, dan pengabdian kepada masyarakat.

Selain itu terdapat nilai kejuangan dan kebangsaan, yang menanamkan semangat patriotisme, nasionalisme, dan kecintaan terhadap bangsa Indonesia.

Pilar terakhir adalah semangat keyogyakartaan, yakni karakter khas masyarakat Yogyakarta yang menjunjung kesantunan, keterbukaan, toleransi, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar budayanya.

Konten Kreator Menjadi Garda Depan Pelestarian Budaya

Dalam diskusi yang berlangsung interaktif, para peserta diajak memahami bahwa konten digital saat ini memiliki pengaruh besar terhadap pola pikir dan perilaku masyarakat. Oleh karena itu, kreator konten diharapkan mampu menghasilkan karya yang tidak hanya viral, tetapi juga memberikan manfaat edukatif dan memperkuat identitas budaya daerah.

Berbagai potensi budaya Yogyakarta seperti tradisi, kesenian, kuliner, destinasi wisata, kerajinan, hingga kisah-kisah lokal dapat diangkat menjadi konten kreatif yang menarik bagi generasi muda. Dengan demikian, ekonomi kreatif dapat tumbuh sejalan dengan upaya pelestarian budaya.

Kegiatan Bimtek Pengembangan Talenta Konten Kreator Digital Batch 2 ini menjadi salah satu upaya pemerintah dalam menyiapkan sumber daya manusia kreatif yang mampu bersaing di era digital sekaligus memiliki pemahaman kuat terhadap nilai-nilai budaya lokal.

Melalui pelatihan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan teknis tentang pembuatan konten digital, tetapi juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya menjaga identitas budaya di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat.

Dengan mengintegrasikan kreativitas, inovasi, dan nilai budaya dalam setiap karya digital, diharapkan lahir generasi kreator konten yang mampu menjadi duta budaya Yogyakarta sekaligus penggerak ekonomi kreatif yang berdaya saing tinggi.

Di tengah arus globalisasi yang semakin kuat, Yogyakarta kembali menegaskan posisinya sebagai daerah yang mampu memadukan kemajuan teknologi dengan keluhuran budaya. Sebuah langkah penting untuk memastikan bahwa pembangunan ekonomi kreatif tidak hanya menghasilkan keuntungan ekonomi, tetapi juga menjaga warisan nilai yang menjadi ruh keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Para Peserta sangat semangat dengan hadirnya Bapak sofyan dari DPRD DIY di acara kegiatan kali ini [Dok.mediadesaonline]




Posting Komentar

0 Komentar