MEDIA DESA ONLINE

MEDIA DESA ONLINE
mediadesaonline.com merupakan situs berita online yang berdiri tahun 2023 dan berbadan hukum. Dikelola oleh PT. WEB DIGITAL MARKETING, berkedudukan di Sleman Berita dan informasi yang kami sajikan khusus seputar perkembangan desa di Indonesia mulai dari wisata, ekonomi, politik, pendidikan, pemerintahan, teknologi, dan lain-lain namun pada umumnya segala hal yang dirasa perlu diberitahukan kepada khalayak kami akan mengabarkan kepada semua pembaca.

DAPUR BAROKAH

DAPUR BAROKAH
JUAL NASIBOX ONLINE PERTAMA DIJOGJA

JASA KELOLA MEDSOS

JASA KELOLA MEDSOS
ANTI RIBET UNTUK JALANKAN MEDSOS

MEDIA DESA ONLINE

Selalu Ada Yang Baru

Blogroll

About

Kisah Suyamto, Kepala Desa di Klaten yang Bagikan Padi Gratis pada Warga

 

Kolose sosok Kades Suyamto dan warga tengah asyik memanen untuk dirinya sendiri di Desa Tumpukan, Kecamatan Karangdowo, Kabupaten Klaten, Jumat (16/4/2021). (Tribun Solo/Mardon Widiyanto)

Kebiasaan seorang kepala desa di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah Suyamto (63), sungguh menginspirasi. Di saat banyak masyarakat kesulitan menghadapi pandemi, Kepala Desa Tumpukan, Kecamatan Karangdowo, Klaten ini tak segan-segan membagikan seluruh hasil padi panennya untuk warga, Hasil panen tersebut berasal dari tanah kas desa yang merupakan jatah bagi kepala desa. "Saya yang tanam, warga yang panen, silahkan ambil secukupnya," tutur Suyamto, seperti dilansir dari TribunSolo, Jumat (16/4/2021).

Sudah lima kali panen dari sawah desa dia bagikan kepada warganya. Suyamto ingin meringankan beban warganya yang terdampak pandemi Covid-19. "Sudah 5 kali panen saya berikan semua ke warga, ya untuk membantu ekonomi warga saya," ucap dia, Jumat (16/4/2021). Selama setahun terakhir, Suyamto melihat pandemi telah menggempur perekonomian warganya. Hatinya tergerak. Suyamto meniatkan memberikan padi gratis sebagai amal ibadah. "Ya saya ikhlas saja meskipun tak seberapa tapi nyatanya setelah itu panenan lain juga bagus hasilnya," ujar dia.

Bisa laku Rp 5 juta Suyamto mengatakan, baru 1.700 meter atau satu patok sawah yang dia garap. Menurutnya, meski tidak besar, hasilnya lumayan banyak. "Kalau dijual ke tengkulak gabah umumnya laku Rp 5 juta, tapi lebih baik diberikan ke warga saja," jelasnya. Padi yang dia tanam selama ini adalah Inpari 42, Inpari 32 dan Ir 64.

Ketika masa panen, warga pun diperbolehkan memanen sendiri ke sawahmya. Namun Suyamto meminta warga menggunakan cara tradisional saat memanen. Caranya yaitu dengan menggunakan ani-ani, gunting, pisau, dan dilarang menggunakan arit. "Dalam memanen padi tersebut saya melarang memakai arit, warga hanya dibolehkan memakai ani-ani, gunting dan pisau," terang dia. Dia ingin mengembalikan tradisi zaman dahulu kala.(kompas)


Posting Komentar

0 Komentar