![]() |
| Flayer yang beredar di medsos |
KLATEN — Suasana Alun-Alun Klaten pada Minggu (31/5/2026) pagi dipastikan akan menjadi saksi dimulainya sebuah perjalanan yang tidak biasa. Seorang putra daerah, Pugianto atau yang akrab disapa Mbah Pugianto, akan memulai kayuhan sepeda menuju Kota Mekkah, Arab Saudi. Perjalanan ribuan kilometer yang membentang melintasi berbagai negara ini bukan sekadar petualangan, melainkan perjalanan spiritual yang sarat makna, doa, dan keteguhan hati.
Acara pelepasan yang digagas oleh Komunitas Sedulur Pit Klaten (SPK) bersama Klaten Federal (KADAL) tersebut menjadi momentum bersejarah bagi masyarakat Klaten. Di tengah era modern yang serba instan, langkah Mbah Pugianto menunjukkan bahwa tekad, kesabaran, dan keyakinan masih menjadi kekuatan terbesar manusia dalam mewujudkan cita-cita.
Dengan mengendarai sepeda yang telah dipersiapkan secara khusus untuk perjalanan jarak jauh, Mbah Pugianto membawa satu harapan besar: menjejakkan kaki di Tanah Suci dengan usaha, doa, dan perjuangan yang dilakukan sejak dari kampung halamannya sendiri. Di bagian depan sepedanya terpasang tulisan sederhana namun penuh makna, “Klaten-Mekkah, Bismillah.” Sebuah kalimat yang menggambarkan awal perjalanan yang disandarkan sepenuhnya kepada pertolongan Tuhan.
Ketua panitia pelepasan menyampaikan bahwa perjalanan ini bukan hanya milik Mbah Pugianto seorang. Lebih dari itu, perjalanan ini adalah simbol semangat masyarakat Klaten yang pantang menyerah dalam meraih impian. Setiap kayuhan pedal akan membawa nama Klaten melintasi batas-batas negara dan budaya, sekaligus memperkenalkan nilai-nilai persaudaraan yang tumbuh di tengah masyarakat.
“Ini bukan tentang seberapa jauh jarak yang ditempuh, tetapi tentang keberanian untuk memulai. Mbah Pugianto mengajarkan kepada kita bahwa mimpi yang besar harus diperjuangkan dengan langkah nyata. Kami berharap masyarakat Klaten turut memberikan doa dan dukungan agar perjalanan ini diberikan keselamatan dan kelancaran,” ujar salah satu perwakilan komunitas.
Perjalanan menuju Mekkah dengan sepeda bukanlah hal yang mudah. Ribuan kilometer harus dilalui dengan berbagai tantangan medan, cuaca, bahasa, budaya, hingga kondisi fisik yang terus diuji setiap hari. Namun justru di situlah nilai perjuangan itu berada. Setiap tanjakan menjadi simbol ujian kehidupan, setiap jalan panjang menjadi gambaran kesabaran, dan setiap kilometer yang dilalui menjadi bukti keteguhan hati.
Bagi masyarakat Klaten, sosok Mbah Pugianto kini menjadi inspirasi bahwa usia bukanlah penghalang untuk berkarya dan berjuang. Dengan senyum sederhana dan semangat yang tak pernah surut, ia menunjukkan bahwa seseorang tetap bisa memiliki cita-cita besar selama masih memiliki kemauan dan keyakinan.
Di tengah berbagai tantangan kehidupan yang dihadapi masyarakat saat ini, perjalanan Mbah Pugianto menghadirkan pesan yang sangat mendalam. Bahwa setiap manusia memiliki perjalanan hidupnya masing-masing, dan keberhasilan bukan hanya tentang sampai di tujuan, tetapi tentang keberanian menjalani proses dengan penuh keikhlasan.
Acara pelepasan di Alun-Alun Klaten juga diharapkan menjadi ajang mempererat persaudaraan antar komunitas sepeda, tokoh masyarakat, dan warga Klaten. Kehadiran masyarakat untuk memberikan doa dan dukungan menjadi energi tersendiri bagi Mbah Pugianto sebelum memulai perjalanan panjang menuju Baitullah.
Tagline yang diusung dalam kegiatan ini, “Satu Kayuhan, Sejuta Doa, Menuju Baitullah,” bukan sekadar slogan. Kalimat tersebut menggambarkan harapan bahwa setiap putaran roda sepeda yang dilakukan Mbah Pugianto akan diiringi doa dari masyarakat Indonesia, khususnya warga Klaten. Doa agar perjalanan berlangsung aman, sehat, dan berakhir dengan keberhasilan mencapai Tanah Suci.
Lebih dari sekadar perjalanan pribadi, kayuhan menuju Mekkah ini menjadi simbol bahwa Klaten memiliki banyak putra-putri yang mampu menginspirasi dunia melalui tindakan nyata. Di saat banyak orang hanya berbicara tentang mimpi, Mbah Pugianto memilih untuk mengayuh dan membuktikannya.
Ketika roda sepeda mulai berputar meninggalkan Alun-Alun Klaten, sesungguhnya yang berangkat bukan hanya seorang pesepeda. Yang berangkat adalah semangat perjuangan, keberanian, optimisme, dan doa dari ribuan masyarakat yang berharap perjalanan ini menjadi kisah inspiratif bagi generasi mendatang.
Dari Klaten untuk dunia. Dari kayuhan sederhana menuju perjalanan spiritual yang luar biasa. Dan dari tekad seorang Mbah Pugianto, masyarakat kembali diingatkan bahwa tidak ada perjalanan yang terlalu jauh bagi mereka yang memulainya dengan “Bismillah.”
Sekjen Relawan Resik Masjid [R3M] Latif Safruddin mengomentari kegiatan ini saya kira hal yang sangat luar biasa, niat yang tulus sebagai orang islam dan mukmin dan berkomitmen melakukan perjalanan religi lakai sepeda ke luar negeri. Dengan upaya yang dilakukan salah satunya dengan hobi beliau bersepeda sampai ke tanah suci mekkah semoga Allah berikan pahala setiap mengayuh sepedanya dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Kami komunitas resik masjid diklaten selalu mendoakan semoga niat baik ini, Allah selalu jaga dan melindungi sampai nanti kembali ke Klaten lagi dengan selamat, semua mendoakan mbah pugianto semangat selalu dan Allah memudahankan dan selalu diberkahi.aamin

0 Komentar