
ZAKIYAH NOOR, S.Pd
WAKASIS SMK MUHAMMADIYAH KELING JEPARA, JAWA TENGAH
Di tengah derasnya arus digitalisasi dan perkembangan teknologi informasi, makna Hari Kebangkitan Nasional bagi pelajar saat ini bukan lagi sekadar mengenang sejarah lahirnya semangat persatuan bangsa. Lebih dari itu, kebangkitan nasional harus dimaknai sebagai momentum membangun kesadaran generasi muda agar mampu bangkit dari ketertinggalan, krisis moral, serta derasnya pengaruh negatif media sosial yang kini menjadi tantangan nyata di lingkungan masyarakat.
Pelajar masa kini hidup di era yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Informasi dapat diakses hanya melalui genggaman tangan. Namun kemudahan tersebut tidak selalu membawa dampak positif. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa media sosial saat ini tidak hanya dipenuhi konten edukasi dan inspiratif, tetapi juga dipenuhi berita hoaks, ujaran kebencian, perundungan digital, hingga konten hiburan yang berlebihan dan minim nilai pendidikan. Kondisi ini menjadi ancaman serius apabila pelajar tidak memiliki pondasi karakter, iman, dan kemampuan literasi digital yang kuat.
Karena itu, semangat kebangkitan nasional harus diwujudkan melalui semangat belajar dan berkarya. Pelajar tidak cukup hanya aktif di ruang kelas, tetapi juga harus mampu tampil sebagai generasi pembawa perubahan di ruang digital. Prestasi di bidang akademik, olahraga, seni, teknologi, maupun kegiatan sosial perlu dipublikasikan secara positif agar mampu menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya. Media sosial seharusnya tidak hanya menjadi tempat hiburan, tetapi juga menjadi sarana menyebarkan motivasi, kreativitas, dan semangat berprestasi.
Realitas di masyarakat saat ini menunjukkan bahwa pengaruh media sosial sangat besar terhadap pola pikir remaja. Banyak pelajar yang lebih mengenal tokoh viral dibanding tokoh bangsa, lebih tertarik mengikuti tren sesaat daripada mengembangkan kemampuan diri. Bahkan tidak sedikit kasus kenakalan remaja, tawuran, penyalahgunaan teknologi, hingga rendahnya etika komunikasi dipicu dari penggunaan media sosial yang tidak terkontrol. Hal ini menjadi alarm penting bahwa kebangkitan generasi muda harus dimulai dari penguatan karakter dan pendidikan moral.
Sebagaimana yang disampaikan dalam amanat upacara bendera setiap Hari Senin di berbagai sekolah, siswa diharapkan mampu memadukan iman, ilmu, dan amal dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga hal tersebut menjadi pondasi utama menghadapi tantangan zaman. Ilmu tanpa iman dapat melahirkan generasi cerdas namun kehilangan arah moral. Sebaliknya iman tanpa ilmu membuat generasi sulit berkembang menghadapi persaingan global. Sedangkan amal menjadi bukti nyata bahwa ilmu dan keimanan benar-benar diterapkan untuk memberi manfaat bagi masyarakat.
Kebangkitan nasional juga harus diwujudkan melalui budaya disiplin, semangat gotong royong, dan kepedulian sosial. Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin individualis akibat pengaruh teknologi, pelajar perlu hadir sebagai generasi yang mampu menjaga nilai kebersamaan dan toleransi. Mereka harus menjadi contoh dalam menjaga etika, menghormati guru dan orang tua, serta aktif dalam kegiatan sosial di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Bangsa Indonesia saat ini membutuhkan generasi muda yang tidak hanya pintar menggunakan teknologi, tetapi juga bijak memanfaatkannya. Pelajar harus mampu menjadi “filter” terhadap berbagai informasi yang beredar. Kemampuan literasi digital menjadi kebutuhan mendesak agar generasi muda tidak mudah terpengaruh hoaks, provokasi, maupun paham negatif yang dapat merusak persatuan bangsa.
Momentum Hari Kebangkitan Nasional seharusnya menjadi pengingat bahwa perjuangan generasi muda zaman dahulu dilakukan dengan keterbatasan, sedangkan generasi saat ini memiliki fasilitas yang jauh lebih lengkap. Karena itu tidak ada alasan bagi pelajar untuk bermalas-malasan, kehilangan semangat belajar, atau terjebak dalam penggunaan media sosial yang tidak bermanfaat.
Kini saatnya pelajar bangkit menjadi generasi yang kreatif, berprestasi, berakhlak, dan mampu memberi pengaruh positif bagi lingkungan sekitar. Dengan memadukan iman, ilmu, dan amal, generasi muda Indonesia diharapkan mampu menjadi pilar penerus bangsa yang siap membawa kemajuan bagi agama, masyarakat, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
0 Komentar