![]() |
| Poto dari akun Gunadi yang diuplod digroup info sekitar Jogonalan Klaten |
KLATEN — Warga Kabupaten Klaten digegerkan dengan kasus dugaan kekerasan seksual yang menyeret seorang pria berinisial AK. Pria tersebut diketahui merupakan ayah kandung korban sekaligus pembina salah satu pondok pesantren diniyah di wilayah Klaten.
Kasus ini menjadi perhatian publik setelah informasi mengenai penetapan tersangka terhadap AK ramai diperbincangkan di media sosial, salah satunya melalui unggahan pada grup Facebook “Info Sekitar Jogonalan Klaten” oleh akun bernama Gunadi.
Berdasarkan informasi yang beredar, kasus tersebut terungkap setelah salah satu korban berinisial U memberanikan diri melapor kepada pihak kepolisian saat usianya menginjak 19 tahun. Korban disebut ingin mencari keadilan atas dugaan tindakan kekerasan seksual yang dialaminya sejak masih remaja.
Tidak berhenti di situ, proses pendalaman kasus kemudian mengungkap fakta lain bahwa adik korban berinisial Y juga diduga mengalami perlakuan serupa. Kedua korban disebut mengalami trauma mendalam akibat tindakan yang diduga dilakukan oleh ayah kandung mereka sendiri.
Kuasa hukum korban bersama pendamping korban menyampaikan bahwa dugaan tindak kekerasan seksual tersebut berlangsung dalam kurun waktu cukup lama, sejak korban masih berusia belasan tahun.
Pihak Polres Klaten dikabarkan bergerak cepat menindaklanjuti laporan korban hingga akhirnya menetapkan AK sebagai tersangka. Saat ini kasus tersebut masih dalam proses penanganan aparat penegak hukum.
Atas dugaan perbuatannya, tersangka dijerat dengan pasal terkait tindak pidana kekerasan seksual sebagaimana diatur dalam ketentuan hukum yang berlaku dengan ancaman hukuman pidana penjara.
Kasus ini memicu keprihatinan masyarakat karena pelaku diketahui memiliki posisi sebagai tokoh di lingkungan pendidikan keagamaan. Banyak warga berharap proses hukum dilakukan secara transparan dan memberikan keadilan bagi para korban.
Pemerhati perlindungan anak juga mengimbau masyarakat untuk lebih peduli terhadap kondisi anak dan berani melapor apabila menemukan dugaan kekerasan maupun pelecehan seksual di lingkungan sekitar.
Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa perlindungan terhadap anak harus menjadi perhatian bersama, baik di lingkungan keluarga, pendidikan, maupun masyarakat luas.

0 Komentar